Oleh: asmacs | Mei 19, 2008

Kopi Stek Makin Digandrungi

Untuk mendukung produksi kopi berkualitas ekspor, masyarakat Kota Pagaralam kini mulai melirik atau mengembangkan kopi stek. Selain buahnya lebih banyak dari kopi biasa, perawatan kopi yang dikembangbiakkan melalui stek ini tidak rumit serta tahan hama.

Hanya saja, saat panen atau memetik buahnya, harus benar-benar matang atau masak. Hal ini untuk meningkatkan kualitas biji kopi yang akan dihasilkan nantinya. Sementara itu, hingga saat ini sudah hampir 60% petani kopi yang sudah berupaya untuk meningkatkan hasil panen atau buah kopi dengan melakukan stek.

Didi, 28, petani asal Pagar Banyu, mengungkapkan, sekarang ini untuk mengupayakan peningkatan hasil panen kopi dari biasanya, dirinya telah melakukan penyetekan terhadap pohon kopi yang ada di kebunnya.

Stek dilakukan untuk pohon kopi yang hasilnya sedikit, lalu dikawinkan dengan pohon yang buahnya banyak. Didi menjelaskan, untuk melakukan penyetekan tidak bisa dilakukan sembarangan, harus dipilih bibit kopi yang bagus.

“Untuk menyetek kiranya dapat memilih bibit yang baik. Ini agar hasil yang akan didapat nantinya dapat sesuai dengan apa yang diinginkan,” ujar Didi, seraya mengatakan bahwa dalam melakukan penyetekan diharapkan pada musim penghujan agar kopi yang distek tidak layu dan mati.

Bila kopi tidak dilakukan penyetekan, ulas Didi, maka paling banyak buah yang dihasilkan mencapai 1,5 kg per pohon. Tetapi, bila kopi stek ditambah dengan kualitas unggul, paling sedikit biji kopi yang dihasilkan 3 kg per pohon.

“Memang kopi stek hasilnya lebih banyak dari kopi yang tidak dilakukan penyetekan. Untuk kopi stek bisa menghasilkan biji hingga mencapai 5 kg per pohon. Bayangkan saja, jika semua petani melakukan penyetekan, pasti hasil yang didapatkan akan banyak,” tukasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kota Pagaralam HA Kadir mengatakan, saat ini petani kopi sudah banyak yang melirik pengembangan budi daya kopi stek.Dari hasil yang sudah dilakukan,petani memang cukup berhasil, buahnya cukup lebat.

“Untuk sekarang ada sejumlah daerah yang sudah membudidayakan kopi dengan cara stek dan sudah beberapa kali panen, seperti di Muarasiban, Kerinjing, Dempo Tengah dan sejumlah daerah lainnya,” tukasnya.

Kadir menjelaskan, sekarang pihaknya sedang melakukan uji coba terhadap 800 batang kopi stek. Jika berhasil, lahan dan pohon akan diperbanyak lagi menjadi 1.000–1.500 batang.

“Diharapkan semua petani untuk melakukan pengembangan budi daya kopi stek yang sudah banyak dikembangkan petani kopi di daerah Dempo Utara dan Dempo Selatan,” ujarnya. (yayan darwansah/SINDO)

About these ads

Responses

  1. tulisan yang kamu buat cukup menarik. tapi belum lengkap tentang masalah budidayanya coba diperlihatjan foto tanaman kopi yang terserang ham dan penyakit.dan pengendalianya. untuk masalah stek tidak diberitahukan masalah bagaiman menyetek yang benar.
    boleh kenalan photomu tidak jelas.

  2. my friend/partner is miss coffee addict….do visit our blog….themugslife.blogspot.com
    white coffee is my favourite

  3. will try cofee steak

  4. tulisannya bgus,v lengkapi dngn cra pnyetkn yg baik


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: